Menu Tutup

Mengawali Perjalanan Baru: Komitmen Pelayanan Yayasan Notre Dame Pekalongan

Pada tanggal 11 Februari 2026, di Pekalongan yang dikenal sebagai kota batik diselenggarakan rapat perdana Yayasan Notre Dame Pekalongan. Pertemuan ini menjadi momen bersejarah untuk meneguhkan arah, semangat, dan komitmen bersama dalam pelayanan sosial Suster Notre Dame Provinsi Indonesia.

Yayasan Notre Dame Pekalongan menaungi beberapa unit karya sosial, yakni Wisma Werdha Marganingsih Pekalongan, LKSA Marganingsih Lasem Putra dan Putri, LKSA Marganingsih Wini Putri, serta Rumah Khalwat Santa Maria Tawangmangu. Setiap unit hadir sebagai wujud nyata kepedulian Gereja terhadap kelompok rentan: para lansia, anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan, serta umat yang merindukan keheningan dan kedalaman relasi dengan Tuhan.

Kehadiran dan Semangat Awal

Rapat perdana ini dihadiri oleh Sr. Maria Robertin, SND selaku Ketua Pembina, dan Bapak Peter Anugrah sebagai anggota Pengawas Yayasan. Hadir pula para suster dan para pemerhati yang berkarya di masing-masing unit sosial, kecuali dari LKSA Wini. Kehadiran mereka menjadi simbol kesatuan hati dan tekad untuk berjalan bersama dalam semangat persaudaraan.

Dalam suasana penuh harapan, Sr. Maria Yuliana selaku Ketua Yayasan mempresentasikan rencana program lima tahun ke depan. Arah kebijakan tersebut tidak hanya berfokus pada keberlanjutan operasional, tetapi juga pada pengembangan kualitas pelayanan, penguatan jejaring sosial, dan pemberdayaan setiap unit karya.

Menjadi Bagian dari Sejarah Besar Notre Dame

Dalam refleksi dan arahannya, Sr. Maria Robertin menegaskan bahwa para Suster Notre Dame adalah bagian dari sejarah besar kongregasi. Persaudaraan yang dibangun bukanlah semata hasil usaha manusia, melainkan karya Roh Kudus yang menyertai perjalanan pelayanan.

Beliau mengajak seluruh anggota yayasan untuk:

  • Terlibat aktif dalam perubahan sosial yang nyata dan berbuah.
  • Membangun kerja jejaring sosial sesuai semangat dan harapan Kapitel.
  • Terbuka terhadap inisiatif-inisiatif sederhana yang membawa dampak besar.
  • Melihat wajah Yesus dalam setiap pribadi yang dilayani.

Pelayanan kepada anak-anak miskin, para lansia, dan mereka yang tersisih bukan hanya bentuk karya sosial, tetapi panggilan untuk menghadirkan keadilan dan kasih Allah di tengah masyarakat. Dengan demikian, Yayasan diharapkan mampu ikut serta mengubah tatanan sosial yang tidak adil dan menjadi suara yang menginspirasi banyak orang untuk memperjuangkan martabat manusia.

Transformasi Pola Pikir dan Bahasa

Salah satu penegasan penting dalam rapat adalah perubahan cara pandang dan bahasa. Sr. Maria Robertin menekankan agar para suster tidak lagi menggunakan istilah “panti asuhan”, melainkan “wisma”. Istilah ini mencerminkan suasana rumah, kehangatan, dan martabat, bukan sekadar tempat penitipan atau penampungan.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Bapak Peter Anugrah. Yayasan didorong untuk lebih kreatif dan inovatif. Relasi dengan para donatur tetap penting, namun tidak boleh menjadi satu-satunya penopang operasional.

Kewirausahaan Sosial sebagai Jalan Kemandirian

Dalam konteks penggalangan dana, muncul kesadaran bersama bahwa setiap unit karya perlu mengembangkan usaha produktif. Nilai pemberdayaan harus menjadi bagian dari identitas pelayanan. Kewirausahaan sosial bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi bentuk tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan karya.

Dengan mengembangkan unit usaha yang sesuai dengan konteks masing-masing, wisma dan lembaga dapat:

  • Mendukung biaya operasional secara mandiri,
  • Memberdayakan penghuni atau lingkungan sekitar,
  • Membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Langkah ini menjadi bagian dari transformasi menuju yayasan yang tidak hanya bergantung pada bantuan eksternal, tetapi juga kreatif dalam menciptakan peluang.

Menjangkau Hati yang Merindukan Kasih

Rapat perdana ini bukan hanya pertemuan administratif, melainkan momentum spiritual dan strategis. Harapan mulai tumbuh kembali bahwa Yayasan Notre Dame Pekalongan dapat menjangkau setiap hati yang merindukan sapaan, kasih sayang, dan ketenangan dalam membangun relasi dengan Tuhan.

Dengan semangat persaudaraan, keterbukaan pada pembaruan, serta komitmen pada keadilan sosial, Yayasan Notre Dame Pekalongan melangkah ke masa depan sebagai tanda kehadiran kasih Allah di tengah masyarakat. Dari kota batik Pekalongan, karya kecil yang dikelola dengan cinta diharapkan terus berbuah bagi Gereja dan bangsa.